Sabtu, 06 April 2013

Elegi Menjelang Senja


Dalam sunyi, terpantul  suara hati,
Dalam duka, kukenang kisah ini.
Dengan mata nanar, ia menguliti hati,
Terpaut erat dalam derai-derai tangis ini.

Ia berdiri di sana dengan balutan goresan hati,
Goresan yang  mekar saat ini,
Terkadang tak seorangpun bisa menebak hati,
Kau menangis, aku menangis di tempat ini,

Ya, di tempat ini, aku mendengar suara hati.
Namun suara itu hanya aku yang yakini.
Biar duka ini menjadi cerita hati,
Kau boleh tahu jika kau temani.

Temani cerita itu hingga alurnya berhenti.
Kukatakan sekali lagi dari hati,
Hanya aku yang tahu cerita ini.

Walau hujan tak reda sore ini,
Namun, hatiku sudah reda denganmu.

Segala janji, harapan dan cita-cita dulu,
Kini bingung menentukan arahnya,
Sebab tuannya menghilang,
Menghilang dalam elegi menjelang senja.

Bak seorang perawan ditinggalkan saat menuju altar penikahan.
Saat janji itu akan diucap,
saat itulah raksasa kabut kelam kebimbangan itu datang.

Mengajak, membujuk rayumu pergi,
Pergi dengan tak berjejak.

Maret 2013. (RD)

Salam Penuh Kasih.
KTB Titik-Titik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar