Dalam sunyi, terpantul suara hati,
Dalam duka, kukenang kisah ini.
Dengan mata nanar, ia menguliti
hati,
Terpaut erat dalam derai-derai
tangis ini.
Ia berdiri di sana dengan balutan goresan hati,
Goresan yang mekar saat ini,
Terkadang tak seorangpun bisa
menebak hati,
Kau menangis, aku menangis di tempat ini,
Ya, di tempat ini, aku mendengar
suara hati.
Namun suara itu hanya aku yang
yakini.
Biar duka ini menjadi cerita
hati,
Kau boleh tahu jika kau temani.
Temani cerita itu hingga alurnya
berhenti.
Kukatakan sekali lagi dari hati,
Hanya aku yang tahu cerita ini.
Walau hujan tak reda sore ini,
Namun, hatiku sudah reda
denganmu.
Segala janji, harapan dan
cita-cita dulu,
Kini bingung menentukan arahnya,
Sebab tuannya menghilang,
Menghilang dalam elegi menjelang
senja.
Bak seorang perawan ditinggalkan
saat menuju altar penikahan.
Saat janji itu akan diucap,
saat itulah raksasa kabut kelam
kebimbangan itu datang.
Mengajak, membujuk rayumu pergi,
Pergi dengan tak berjejak.
Maret 2013. (RD)
Salam Penuh Kasih.
KTB Titik-Titik
Tidak ada komentar:
Posting Komentar