Senin, 31 Desember 2012

DI SUATU WAKTU


Perenungan di Akhir Tahun.

Tidak seperti pagi biasanya, hari ini aku terbangun lebih awal, jam dua dini hari. Aku terdiam beberapa saat dan mulai memerintah otakku untuk mengingat-ingat lagi apa yang kulakukan kemarin dan mengapa aku bisa terbangun sepagi ini ...

Kucari-cari pensil kesayanganku, untuk melanjutkan tugasku yang belum selesai karena aku tertidur kemarin malam. Tetapi pensil yang kucari tak juga kutemukan. “Ya, sudahlah,” aku berkata dalam hati. Kuambil ballpoint yang tergeletak di lantai dan mulai asyik melanjutkan tugasku.

Tepat jam enam pagi, kakakku datang ke kamar dan mengingatkan akan rencanaku untuk AWG di suatu rumah doa. “Ayo, bersiap-siap, jalanan macet loh...”, katanya. Awalnya, aku seperti melupakan rencanaku ini, kupikir lebih baik aku menyelesaikan tugas-tugasku. Tetapi akhirnya, entah mengapa, hatiku seakan berbisik, “Pergilah, ambillah waktu sejenak untuk berdiam diri.”

Maka, pergilah aku. Di sepanjang jalan, kulihat bunga-bunga yang cantik, berwarna-warni, indah sekali. Udara yang sejuk  membuat pikiranku seakan segar kembali. Alunan instrumen musik yang kudengar dari ponselku menambah asyiknya perjalananku menuju rumah doa.

Sesampainya di sana, aku duduk-duduk sebentar dan mulai membuka-buka buku harianku. Banyak hal-hal yang telah kutulis dulu, telah aku lupakan, seperti tekadku untuk belajar untuk lebih ramah, lebih banyak senyum, dll. Untuk beberapa hal dimana aku mulai tidak disiplin, aku pun mengambil komitmen, seperti : saat teduh tiap pagi, rajin berdoa, bangun pagi lebih awal agar bisa lari pagi, dan untuk beberapa hal yang terdengar konyol tetapi berpengaruh besar seperti : jangan suka menghayal, jangan suka ngecengin brondong, jangan suka grogian, jangan terlalu banyak tidur, jangan suka marah-marah, dll.

Kulihat-lihat lagi target yang pernah kubuat. Ternyata, banyak sekali yang belum tercapai. “Ya, Tuhan.. Apa yang sebenarnya kulakukan selama ini? Mengapa aku melupakan target-targetku ini? Sampai akhirnya aku tak pernah mencapainya”, kataku. Apakah ini dikarenakan aku telalu pelupa atau karena aku sibuk dengan hal-hal lain.

Ngomong-ngomong soal pelupa, rasanya aku memang sepertinya sangat pelupa. Pernah suatu waktu, aku  berangkat kuliah dan lupa membawa dompet. Perjalanan Cicaheum - Taman sari membutuhkan ongkos Rp 3.000,- tetapi ternyata, sepeserpun uang tak kumiliki di tas maupun di saku celanaku. Ingin turun, tapi tanggung, karena aku sudah jauh dari Cicaheum. Sepanjang jalan aku berdoa semoga ada pertolongan dari Tuhan, semoga ada temanku yang naik angkot ini atau orang yang ku kenal agar aku bisa meminjam uangnya untuk bayar ongkos angkot. Tetapi entah mengapa sepanjang jalan menuju Taman sari, angkotnya kosong  dan hanya ada aku yang menjadi penumpang. Dengan keberanian yang luar biasa, kudekati pak sopir lalu kukatakan yang sejujurnya bahwa aku lupa bawa dompet dan tidak ada uang sepeserpun. Aku takut plus malu sekali. Aku terus berdoa dalam hati. Untung sekali, pak sopir tersebut baik hati. “Ndak apa-apa Neng, turun dimana?” tanya pak sopir. “Di ITB, Pak,” jawabku.

“Terimakasih banyak ya, Pak,”kataku. Pak sopir hanya tertawa. Tertawanya mirip tawa Jokowi. Mirip sekali, ditambah karena diapun memakai baju kotak-kotak yang mirip dengan baju kampanye Jokowi. Kulihat lagi baik-baik pak sopir, jangan-jangan dia Jokowi yang menyamar jadi sopir angkot. Hehehe.. Ternyata bukan. Dia orang yang berbeda dan memiliki hati seperti malaikat.

Ongkos untuk pulang ke Cicaheum, akhirnya dapat kupinjam dari adik satu persekutuan. Aku janji padanya untuk mengembalikan di sabtu minggu depan, saat persekutuan. Tetapi, dia malah menolak. “Cuman tiga ribu aja pun kak, ga apa-apa,”katanya. Tetap saja aku yang tak enak hati. Walaupun begitu, sampai tulisan ini kutulispun, aku masih belum mengembalikan uang itu.

Pengalaman yang hampir sama, kembali kualami untuk yang kedua kalinya. Aku benar-benar lupa membawa dompet lagi. Kali ini bertepatan dengan hari ujian pengantar diferensial  G******* (pelajaran yang memerlukan kejelian membayangkan bentuk permukaan benda. Namun, sampai saat ini, aku masih belum berhasil membayangkannya). 

Dari malam sampai pagi, aku belajar mempersiapkan diri untuk ujian ini. Aku begitu bersemangat sekali sehingga kubahas soal-soal dari setiap bab. Saking semangatnya, aku juga mempersiapkan kertas-kertas ringkasan yang akan kubaca saat di angkot nanti menuju kampus. "Semuanya sudah siap.", pikirku. Akupun berangkat ke kampus pagi itu.

Sewaktu membaca di angkot, tiba-tiba aku teringat kalau aku tidak punya uang kecil di dompet untuk ongkos. Untuk memastikan, kulihat dompetku. Nah, di sinilah aku baru sadar kalau ternyata, aku lupa membawa dompet. Aku jadi keringat dingin, membaca pelajaran pun tak konsen lagi. Kumasukkan semua buku-buku dan kertas-kertasku ke dalam tas. Kulihat-lihat lagi isi tas ku, apakah aku menyelipkan uang di dalam tas atau di saku celana. Aku juga berharap, kartu ATM-ku yang lupa kumasukkan ke dalam dompet tertinggal di dalam tas yang sedang kubawa. Namun, setelah mencari-cari, yang kudapat hanyalah uang seribu rupiah. “Wah, ga cukup ini!” pikirku. Kulirik  jam tanganku. Pukul setengah sembilan pagi. “Waduh, ujianku jam sembilan!” teriakku dalam hati. Tidak sempat lagi untuk pulang ke rumah. ”Kali ini benar-benar kacau!” pikirku.

Angkot yang sedang kunaiki penuh dengan penumpang. "Apa aku minta aja ya sama penumpang lain aja ya," begitu pikirku. “Mm.. tapi aku malu, nanti disangka penipu lagi!”. Akhirnya, akupun berdoa dalam hati agar Tuhan beri pertolongan. Semoga ada teman atau kenalanku yang naik angkot ini dan meminjamkan uang untuk ongkos. Namun, hampir sampai ke Taman sari, tak juga ada orang yang kukenal. Aku berdoa semakin kuat, ”Tuhan, ini aku mau ujian, tolonglah aku kali ini...”. Aku menjadi semakin gelisah, semua rumus-rumus yang kuingat seakan hilang semua.

Perlahan, aku mencoba untuk tetap tenang. Aku pun teringat akan doaku sebelum pergi ujian tadi. Begini bunyinya: “Tuhan yang baik, aku adalah manusia yang lemah dan mencoba mengharapkan kesempurnaan dalam hidupku namun kesempurnaan hanya ada padaMu, Tuhan. Aku telah mempersiapkan dengan kekuatan yang bisa kuusahakan, tetapi aku serahkan semuanya padaMu. Tuhan, ajarkan aku untuk patuh, ajarkan aku untuk berserah dan tenang dalam kuasa perlindungan dan naunganMu, berkati aku sepanjang hari ini Tuhan. Amin.”

Sesaat setelah aku mengingat doaku tadi, naiklah seorang wanita berkerudung dengan wajah yang sangat lembut. Terpikir olehku, dia seperti malaikat yang Tuhan kirim agar aku mendapat pertolongan. Akupun memberanikan diri, ”Mbak, saya lupa bawa dompet dan yang ada, hanya seribu rupiah. Saya boleh minta dua ribu rupiah untuk ongkos?” tanyaku kepadanya dengan nada yang sangat pelan agar penumpang lain tidak mendengar dan akupun tak malu.

“Wah, saya hanya punya dua ribu rupiah uang kecil dan itupun untuk ongkos saya, selebihnya uang besar,” katanya. Tiba-tiba, aku merasa sedih sekali. “Mmmh, tapi tunggu dulu..,” katanya lagi. “Mbak naik dari mana dan mau turun dimana?”tanyanya. “Dari Cicaheum dan turun di ITB, Mbak,” jawabku. “Oh, ITB... Gerbang belakang ya?” tanyanya. “Iya,” sahutku sedikit senang. “Kalau begitu saya saja yang bayar ongkosnya Mbak. Saya juga turun di gerbang belakang ITB,” katanya. “Oh.. Puji Tuhan..!!” teriakku dalam hati.

Akhirnya kami berkenalan di sepanjang jalan. Ternyata Mbak-nya lulusan teknik kimia ITB 2006 dan sekarang bekerja di salah satu Laboratorium Teknik Kimia. Tetapi sayang, sampai tulisan ini kutulis pun, aku masih lupa nama Mbaknya. Aku coba-coba mengingat lagi, namun masih lupa juga. Bagaimanapun, beliau adalah salah satu malaikat yang Tuhan kirim untukku. “Terimakasih banyak ya, Mbak,” ujarku sebagai salam perpisahan saat itu.

Setelah kupikir-pikir lagi, setiap orang ternyata bisa jadi dipakai Tuhan untuk jadi malaikat bagi orang lain. Akupun mau jadi salah satu orang yang bisa Tuhan pakai untuk memberikan kebaikan bagi orang lain. Aku bertekad untuk membuat daftar hal-hal yang bisa aku lakukan di tahun 2013 ini. Aku ingin menikmati Dia dan menggunakan hidup yang Dia berikan bagiku dengan sebaik-baiknya. Selama ini, aku terlalu sibuk dengan segala kesibukan yang sebenarnya tak terlalu penting. Aku mengejar hal-hal yang kuanggap besar namun sebenarnya sepele dan sia-sia.

Seperti halnya lupa membawa dompet tadi, aku mengejar sesuatu yang kuanggap pantas kukejar dan sangat repot dibuatnya (segala persiapan untuk kuliah dan ujian). Namun, aku malah melupakan hal yang esensial (ongkos angkot) yang mampu mengantarkan aku ke tujuanku, yang tanpa hal itu, semua hal yang kupersiapkan menjadi kacau dan aku gelisah.

Aku mudah tergoda dengan segala hal yang kulihat dan kudengar. Akhirnya, aku pun jatuh ke dalam perangkapnya. Apa yang selama ini kuanggap baik, kuanggap besar dan indah sehingga pantas untuk kukejar, ternyata hanyalah hal yang sia-sia. Hal-hal yang pada akhirnya hanya akan membuat aku kecewa dan merasa iri hati pada orang lain. Sebab aku tak bisa seperti mereka, sebab aku tak bisa menjadi seperti  yang dunia harapkan dan tawarkan.

Saat kurenungkan ini, kubuka kitab Ibrani dan kudapatkan ayat ini di Ibrani 2:1, “karena itu harus lebih teliti kita memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus”.

Kulihat lagi daftar resolusi-ku, apakah semua ini merupakan ha-hal yang yang pantas aku kejar di tahun 2013? Jangan-jangan, semuanya hanyalah ambisi yang sia-sia dan tak sesuai dengan Tuhan mau. 

Maka, seperti pemazmur, akupun berharap :

“Tuhan, aku tidak tinggi hati, dan tidak memandang dengan sombong;
aku tidak mengejar hal-hal yang terlalu terlalu besar atau hal-hal yang terlalu ajaib bagiku.
Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku;
Seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya,
Ya, seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku”
(Mazmur 131: 1-2)

"New hope in this new year.
Welcome 2013." (RD)

Salam Penuh Kasih.
KTB Titik-Titik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar